Pages

Sunday, March 18, 2012

Zuhud dalam Arti Sebenarnya


Zuhud secara harfiah adalah lebih mengutamakan akherat daripada dunia, karena kehidupan dunia itu penuh dengan fatamorgana dan berbagai keindahan semu yang melalaikan dari hakekat kehidupan sebenarnya.
            Dalam salah satu firman-Nya menyebutkan:
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak,….Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS.Al-Hadid:20)
            Penjelasan ayat ini menyatakan bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu, bathil, dan sekedar permainan yang melalaikan untuk akheratnya. As-Syaikh Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat demi kehidupan akherat.
            Akan tetapi zuhud bukanlah meninggalkan kenikmatan dunia dengan hidup seadanya, menderita tanpa harta, mengenakan pakaian yang lusuh, miskin, hanya duduk di masjid, berdo’a sepanjang hari tanpa ada usaha, beribadah dan beribadah saja tanpa melakukan kegiatan-kegiatan lainnya seperti bekerja, berindustri, atau yang lainnya.
            Sikap zuhud pada hakekatnya adalah kemampuan kita dalam menjaga hati dari godaan serta tipu daya kemewahan dunia tanpa meninggalkannya. Karena dengan kekayaan yang lebih akan banyak membantu, berjihad, beramal, berinfaq, mempunyai kekuatan untuk menjadi khalifah di muka bumi dan menjadi rahmat bagi seluruh alam.
            Itulah kenapa para sahabat yang dijamin masuk surge adalah orang yang kaya raya. Bahkan Abdurrahman bin Auf adalah saudagar terpandang dan kaya raya yang hartanya digunakan untuk berjihad. Dari sini bisa disimpulkan bahwa dunia itu hanyalah sementara dan akheratlah kehidupan yang kekal, namun tetap menggapai dunia untuk bekal akherat.
            Al-Hasan Al-Bashri menyatakan bahwa zuhud itu bukanlah mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta, akan tetapi zuhud di dunia adalah engkau lebih mempercayai apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu. Keadaanmu antara tertimpa musibah dan tidak adalah sama saja, sebagaimana sama saja di matamu antara orang yang memujimu dengan yang mencelamu dalam kebenaran.
            Jadi pendapat sebagian orang yang mengatakan bahwa zuhud itu meniggalkan semua perhiasan dunia adalah tidak benar. Lihatlah, bagaimana Nabi, teladan bagi orang-orang yang zuhud, beliau mempunyai Sembilan isteri, manajer caravan, dan pedagang yang sukses. Demikian juga Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman, sebagaimana seorang penguasa mempunyai kekuasaan yang luas sebagaimana yang disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Para Sahabat, juga mempunyai isteri-isteri dan harta kekayaan, yang diantara mereka ada yang kaya raya. Semuanya ini tidaklah mengeluarkan mereka dari hakekat zuhud yang sebenarnya.
Sumber: Majalah Konsist edisi 60 tahun 2012

0 komentar:

Post a Comment