Menurut Al-Khaththath,sehari setelah peristiwa bom itu,sejumlah ormas Islam bertemu di PPMuhammadiyah.Dari situ mereka dapat informasi bahwa pada saat terjadi peledakkan,ada 130 anggota CIA yang bermalam di Hotel Marriott.”Saya yakin,ini bukan hal kebetulan!”ujar sekjen FUI ini.Sayangnya,tidak ada media yang memberitakan soal keberadaan sejumlah agen intelejen Amerika ini yang secara kebetulan berada di lokasi kejadian.Ia yakin bahwa ada pihak-pihak yang sangat kompeten soal bom dan mereka sama sekali tidak dicurigai.”Bukankah yang sangat mengerti soal bom adalah mereka yang ngerti persenjataan.Dan itu bisa polisi,tentara,atau intelejen.”.Ketua Hizbud Dakwah Islam ini pun menyayangkan beberapa media yang mengikuti arus aparat dengan melakukan tuduhan-tuduhan terhadap aktivis Islam.
Khaththath menambahkan,biasanya sebelum ada bom selalu ada pengkondisian terhadap sia yang akan menjadi tertuduh.”Saya ingat betul dengan peristiwa bom Bali 2002.Seminggu sebelum kejadian,sejumlah ormas Islam diundang ke Mabes Polri.Disana,mereka mendapatkan pengarahan soal bahaya terorisme.Bahkan,disitu disebut tiga orang berbahaya yang disinyalir sebagai anggota Jama’ah Islamiyah (JI).Mereka itu adalah Abu Bakar Ba’asyir,Hambali,dan Imam Samudera.Dan seminggu kemudian,bom meledak.Dan mereka pun langsung menjadi target perburuan polisi.” Papar Al-Khaththath.
Menariknya,pada saat kejadian,di hotel tersebut sedang berlangsung pertemuan para top manager dari beberapa perusahaan besar yang berbisnis di Indonesia.”Bagaimana mungkin seorang Nurdin M Top bisa secanggih itu dalam soal informasi?” ucap Jose meyakinkan.Jose jua menambahkan,agak aneh kalau pelaku bom bunuh diri dengan menggunakan tas troli di bom,tapi kepala dan tubuhnya terpisah.”Ini juga kejanggalan.Kalau bom diletakkan di ransel,hal itu mungkin terjadi.Tapi kalu bom di tas troli atau dijinjing,sulit menangkap itu sebagai sebuah kebenaran.” Papar ketua presidium Mer-C ini.
Fadhli Zon punya pendapat lain soal keterkaitan peristiwa bom Marriott II dengan pemilu presiden.Terutama soal konferensi pers SBY beberapa jam setelah terjadinya peledakkan.Menurutnya,agak aneh seorang presiden tiba-tiba bereaksi emosional dan mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang sangat provokatif dan berlebihan.”Seharusnya seorang kepala Negara memberikan pernyataan yang menenangkan.Memberikan jaminan keamanan,dan serius akan menangkap pelaku pengeboman.Bukan justru memberikan pernyataan yang tambah meresahkan.”
Dan lebih aneh lagi ketika Polri justru memberikan pernyataan yang sangat berbeda dengan presiden.Bahwa,pelaku peledakkan diduga kuat jaringan Al-Qaeda atau Noordin M Top.”Bagaimana mungkin dua institusi Negara bisa punya pendapat yang tidak klop,” tambah Fadhli.Bahkan menurutnya,pemaparan SBY soal data-data intelejen dalam bentuk foto-foto yang sebenarnya foto lama,bisa merupakan pelanggaran terhadap rahasia Negara.Nah Lho…?!?!


0 komentar:
Post a Comment