Pages

Sunday, April 29, 2012

Sejarah Menara Masjid

 Di zaman Rasullah, tidak ada satupun masjid yang memiliki menara. Dulu Rasulullah memerintahkan Bilal untuk adzan dari tempat yang tinggi, dan itu bukanlah menara masjid.
 




Dari penjelasan singkat tersebut, sudahlah kita tahu bahwa asal-usul menara masjid bukanlah dari Arabi, tetapi karena pengaruh budaya dari luar Dalam buku Ensiklopedi Tematis Dunia Islam penerbit Ichtiar Baru Van Hoeve disebutkan bisa jadi menara itu berasal dari buah peradaban setelah Islam berekspansi ke dunia luar. Sebut saja, apakah meniru  menara api Zoroaster, menara lonceng gereja, mercusuar pantai atau menara pengintai prajurit Romawi, semua masih butuh penjelasan.
Creswell, sarjana Inggris, mengatakan, Islam belum mengenal menara selama pemerintahan Rasulullah hingga Khulafaur Rasyidin. Walaupun tak ada menara, dulu ada sebuah ruangan kecil di puncak teras masjid tempat untuk mengumandangkan adzan. Masih menurut Creswell, di Rumah Abdullah bin Umar telah terdapat tiang, dari atas tiang itu suara mu’adzin bisa dikumandangkan sampai jauh, fungsi tiang itu ternyata semacam corong yang menyalurkan suara ke berbagai penjuru, sampai abad 10 Hijriyah tiang itu masih berdiri.
Laman Web Wikipedia menyebutkan menara dibangun sejak masa Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan pada tahun 665 Masehi untuk menyaingi menara lonceng di gereja. Namun data ini dibantah oleh Creswell. Menurutnya, baru pada tahun 673 Masehi menara ini dibangun di Damaskus. Adapaun menurut Ensiklopedia Britanica menyebutkan, menara masjid tertua di dunia terdapat di Kairouan, Tunisia yang dibangun sekitar tahun 724-727 Masehi. Umar bin Abdul Aziz juga telah membangun empat menara disetiap sudut masjid Nabawi. Setiap menara tingginya mencapai 9 meter, melalui menara itu mu’adzin mengumandangkan panggilan shalat.
Untuk Indonesia sendiri, sejak abad 15 Masehi memang telah berdiri menara-menara masjid, tetapi itu semua hasil akulturasi dengan budaya setempat yakni Hindu dan Buddha. Menara di Masjid Kudus misalnya, nampak lebih dominan unsur Hindunya karena ingin memadukan dengan konsep pura, tempat ibadah agama Hindu.
Kalau di Masjid Demak sendiri, asal-usul menaranya baru dibangun tahun 1800-an, itupun oelh kompeni Belanda, makanya menara ini tidak menyerap unsur-unsur kebudayaan Jawa seperti Hinduismenya menara Kudus, tetapi sesuai corak mereka, yaitu mirip dengan Menara Eiffel di Paris, Perancis.
Sumber: Majalah Konsist Edisi 58,tahun 2012 dengan perubahan.

0 komentar:

Post a Comment